
JAKARTA, wartametropolitan.com – Perkembangan pengobatan obesitas terus menghadirkan pendekatan baru untuk membantu pasien mengendalikan berat badan. Salah satu yang tengah dikembangkan adalah retatrutide, obat injeksi eksperimental produksi Eli Lilly yang menunjukkan hasil signifikan dalam uji klinis fase III, dengan penurunan berat badan rata-rata mencapai 18,8 persen.
Temuan tersebut berasal dari penelitian TRIUMPH-2 yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi ini melibatkan 1.152 peserta di 92 lokasi penelitian yang tersebar di delapan negara. Hasilnya dipresentasikan oleh Dr. Juan Pablo Frías dalam Pertemuan Tahunan Asosiasi Eropa untuk Studi Diabetes (EASD) di Milan.
Retatrutide diberikan melalui suntikan satu kali dalam sepekan. Obat ini memiliki mekanisme kerja berbeda dari sejumlah obat penurun berat badan lain karena menargetkan tiga jalur hormon sekaligus, yaitu GLP-1, GIP, dan glukagon.
Pendekatan tersebut membuat retatrutide disebut sebagai agonis rangkap tiga atau triple agonist. Sebagai perbandingan, semaglutide yang digunakan dalam Wegovy menargetkan satu jalur hormon, sedangkan tirzepatide dalam Zepbound bekerja pada dua jalur hormon.
Dalam penelitian tersebut, peserta yang menerima retatrutide dosis 12 miligram mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 18,8 persen. Sementara itu, kelompok yang menerima plasebo mencatat penurunan rata-rata sebesar 5,1 persen.
Dampak penurunan berat badan juga terlihat pada kelompok peserta lainnya. Sebanyak 47 persen peserta yang menerima retatrutide berhasil menurunkan berat badan setidaknya 20 persen, sedangkan 31 persen mengalami penurunan sebesar 25 persen atau lebih. Pada peserta dengan indeks massa tubuh (BMI) awal minimal 35, penurunan berat badan rata-rata mencapai 21,9 persen.
Selain membantu mengurangi berat badan, retatrutide juga menunjukkan hasil positif terhadap pengendalian gula darah. Rata-rata kadar HbA1c, indikator untuk mengukur rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir, turun sebesar 1,4–1,5 poin persentase pada kelompok pengobatan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan penurunan 0,45 poin persentase pada kelompok plasebo.
Pada kelompok yang menerima dosis 12 miligram, sebanyak 72 persen peserta mencapai kadar HbA1c di bawah 6,5 persen. Penelitian tersebut juga mencatat perbaikan sejumlah parameter kesehatan lain, termasuk tekanan darah, trigliserida, dan hsCRP yang merupakan penanda peradangan dalam tubuh.
Meski demikian, penggunaan retatrutide masih memiliki risiko efek samping, terutama pada saluran pencernaan. Diare dilaporkan dialami 34 persen peserta, sementara mual terjadi pada 28 persen peserta.
Efek samping tersebut turut menyebabkan sebagian peserta menghentikan pengobatan. Pada kelompok yang menerima dosis lebih tinggi, angka penghentian terapi akibat efek samping berkisar 8–12 persen. Adapun pada kelompok plasebo, angkanya mencapai 5 persen.
Hasil penelitian ini memperkuat kajian mengenai penggunaan obat untuk membantu menangani obesitas pada orang yang juga mengalami diabetes tipe 2. Mekanisme kerja retatrutide yang menargetkan tiga jalur hormon dinilai berpotensi memberikan manfaat terhadap penurunan berat badan dan pengendalian gula darah.
Namun, berdasarkan materi penelitian tersebut, retatrutide belum memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Karena itu, hasil uji klinis yang menjanjikan tersebut belum berarti obat ini telah disetujui untuk penggunaan umum. Evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk menilai keamanan dan efektivitasnya.





