
JAKARTA, wartametropolitan.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat strategi transformasi Ibu Kota menuju kota global dengan mengandalkan kepercayaan publik dan kepastian bagi investor.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan dua faktor tersebut menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota yang global, hijau, dan tangguh.
Pernyataan itu disampaikan Pramono saat menghadiri Jakarta Investment Awards (JIA) 2026 bertajuk “Investing in a Global, Green, and Resilient Jakarta” di Hotel The Westin Jakarta, Jakarta Selatan, belum lama ini.
“Dengan menyongsong 500 tahun ini, mari kita buat Jakarta menjadi kota yang lebih baik, lebih aman, lebih nyaman, dan sekaligus membangun kepercayaan dunia untuk mereka datang berinvestasi di Jakarta,” ujar Pramono.
Salah satu sasaran yang dipasang Pemprov DKI adalah membawa Jakarta masuk 50 besar Global Cities Index pada 2030. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah berupaya memangkas sejumlah hambatan yang selama ini dapat memengaruhi kepastian investasi.
Pembenahan dilakukan antara lain melalui percepatan proses perizinan. Pengurusan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) kini ditargetkan dapat diselesaikan maksimal dalam 15 hari kerja.
Pramono juga menekankan bahwa peningkatan kepercayaan investor dapat mendorong pembangunan Jakarta tanpa harus sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Sama sekali tidak menggunakan dana APBD. Dari mana? Strategic partner. Kenapa bisa? Kepercayaan yang dibangun, trust. Termasuk (pembangunan) di Taman Semanggi,” katanya.
Kinerja investasi turut menunjukkan tren positif. Realisasi investasi Jakarta meningkat dari sekitar Rp103 triliun pada 2021 menjadi Rp270 triliun pada 2025. Hingga kuartal II 2026, nilainya telah mencapai Rp173 triliun.
Kontribusi investasi Jakarta saat ini mencapai sekitar 17,2 persen terhadap investasi nasional. Arus modal tersebut juga berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Jakarta yang berada di angka 5,52 persen.
Menurut Pramono, kepercayaan terhadap Jakarta tidak hanya tercermin melalui investasi. Keamanan dan kenyamanan kota juga menjadi faktor yang membuat Jakarta mampu menarik berbagai kegiatan berskala internasional.
“Untuk mengukur kepercayaan publik itu sederhana. Enggak mungkin yang namanya BTS tanggal 26, 27, 29 Desember main tiga hari, kalau Jakarta enggak aman, nyaman, enggak mungkin. Termasuk dua minggu lagi, yang namanya The Weeknd itu main di JIS,” kata dia.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono turut mengapresiasi pelaku usaha yang telah menanamkan modal dan ikut berkontribusi terhadap perkembangan Jakarta.
“Secara khusus saya ingin menyampaikan terima kasih untuk itu. Karena saya meyakini, tanpa investasi di Jakarta, tanpa kepercayaan publik, wajah Jakarta tidak seperti sekarang ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai investasi yang masuk ke Jakarta perlu memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar menambah modal.
“Investasi yang berkualitas adalah capital yang compounds. Modal yang terus menggandakan nilai, yang menciptakan pekerjaan, yang meningkatkan produktivitas, menghidupkan pemasok lokal, membawa teknologi dan inovasi, dan pada akhirnya membuat sebuah kota semakin kuat menghadapi perubahan,” ujarnya.
Shinta menyebut Jakarta tetap memiliki daya tarik bagi investor. Namun, menurutnya, transformasi ekosistem usaha tetap diperlukan agar pelaku bisnis memperoleh kepastian dalam menjalankan investasi.
Beberapa hal yang dinilai perlu diperkuat antara lain penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, reformasi perpajakan hingga pengendalian biaya energi.
“Ini bukan berarti dunia usaha kehilangan appetite untuk berinvestasi. Kami sedang menanti ekosistem yang membuat investasi lebih predictable, more competitive, and more productive,” tutur dia.
Shinta juga melihat Jakarta memiliki posisi strategis karena menjadi titik pertemuan modal, teknologi, talenta, pembiayaan, dan gagasan. Apindo, kata dia, siap terus menjadi mitra bagi Pemprov DKI dalam proses transformasi tersebut.
“Kami percaya Jakarta tidak perlu memilih antara global, green, atau resilient. Jakarta harus menjadi ketiganya at the same time,” ucap Shinta.





