
JAKARTA, wartametropolitan.com – Akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha mikro untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mendorong semakin banyak pedagang memanfaatkan program pembiayaan yang disediakan Bank Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno optimistis kolaborasi Bank Jakarta bersama Perumda Pasar Jaya melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Non-KUR dapat memperkuat kondisi ekonomi para pedagang.
Menurut Rano, tambahan modal dapat memberikan ruang bagi pedagang untuk mengembangkan usaha. Dengan permodalan yang lebih memadai, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan bisnis, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan.
“Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha,” kata Rano saat menghadiri dan menyaksikan penandatanganan Akad Kredit Massal Bank Jakarta bagi 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, belum lama ini.
Selain 100 orang yang melakukan akad kredit massal hari ini, jelas Rano, Bank Jakarta juga telah menyalurkan program pembiayaan bagi 167 pedagang dengan besaran nominal mencapai sekitar Rp 48 miliar.
“Saya berharap, kegiatan akad kredit massal yang dilaksanakan ini bakal menarik minat lebih banyak pedagang di Pasar Kramat Jati, yang totalnya ada 5.000 pedagang, untuk mengikuti program pembiayaan bagi UMKM dari Bank Jakarta,” tutur Rano.
Rano juga mengingatkan bahwa akses pembiayaan formal juga harus diikuti dengan literasi keuangan. Upaya ini, tegas Rano, penting diikuti agar pelaku UMKM mampu menerapkan manajemen keungan yang sehat sehingga usahanya bisa terus berkembang.
“Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain,” ujarnya.
Sementara, Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo menjelaskan, program ini bukan sekadar kegiatan penyaluran kredit, tetapi merupakan bagian dari upaya pihaknya membangun akses keuangan yang semakin luas bagi pelaku usaha mikro agar dapat berkembang dan naik kelas.
“Kami tidak ingin pedagang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang,” tutur dia.
Bagi pedagang yang ingin mengakses permodalan, ungkap Agus, pihaknya menyiapkan program pembiayaan melalui KUR ataupun Non KUR.
Bagi program KUR, Agus menjelaksan tidak memerlukan jaminan dengan plafon pinjaman hinga Rp 100 juta.Sedangkan bagi program Non KUR, pedagang bisa menjadikan lapak dagangannya menjadi jaminan.
“Bagi pedagang yang mengakses program Non KUR bisa mendapat plafon pinjaman hingga Rp 500 juta dengan bunga sekitar 10 persen pertahun,” ucap Agus.
Keberhasilan bagi Bank Jakarta, menurut Agus, bukan diukur dari seberapa besar kredit yang disalurkan. Tapi, ketika pembiayaan membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas.





