
JAKARTA, wartametropolitan.com – Masyarakat diminta memilah informasi mengenai kolesterol yang beredar di media sosial. Pasalnya, informasi yang keliru dinilai dapat membuat seseorang salah memahami risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Para ahli jantung kembali mengingatkan bahwa persoalan kolesterol tidak sesederhana anggapan bahwa semua kolesterol berbahaya. Secara medis, kolesterol tetap dibutuhkan tubuh, tetapi kadar LDL yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terbentuknya plak di dinding arteri.
LDL atau yang kerap disebut sebagai kolesterol “jahat” berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan jantung, stroke, hingga kematian. Karena itu, pengelolaan kadar kolesterol menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mencegah penyakit kardiovaskular.
Para ahli menilai kesalahpahaman mengenai kolesterol semakin mendapat ruang di tengah derasnya informasi kesehatan yang beredar secara daring. Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah munculnya keraguan terhadap penggunaan statin, obat yang selama ini digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol.
Padahal, penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dalam beberapa dekade sebelumnya turut didukung oleh penggunaan statin, pengobatan hipertensi, serta berkurangnya jumlah pengguna tembakau.
Menurut CDC, kolesterol memiliki fungsi penting bagi tubuh, termasuk membantu pembentukan membran sel dan produksi hormon. Namun, persoalan muncul ketika LDL berada pada tingkat berlebihan karena dapat memicu penumpukan plak di pembuluh darah arteri.
Sementara itu, HDL memiliki fungsi berbeda. Jenis kolesterol yang kerap disebut sebagai kolesterol “baik” tersebut membantu membawa kolesterol kembali ke hati.
Persoalan lainnya adalah kolesterol tinggi sering kali tidak menunjukkan tanda yang mudah dikenali. Seseorang dapat memiliki kadar kolesterol tinggi tanpa merasakan keluhan tertentu hingga akhirnya mengalami komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke.
Karena itu, pemeriksaan menjadi penting untuk mengetahui kondisi kadar kolesterol. CDC menyarankan orang dewasa memeriksakan kadar kolesterol setidaknya setiap lima tahun.
Selain pemeriksaan, upaya menjaga kadar kolesterol juga dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup. Pola makan dengan lebih sedikit lemak jenuh, aktivitas fisik secara rutin, serta menghindari rokok menjadi bagian dari langkah pencegahan.
Namun, perubahan gaya hidup tidak selalu cukup bagi setiap orang. Mereka yang mengalami hiperkolesterolemia familial, penyakit kardiovaskular, atau diabetes dapat membutuhkan terapi medis untuk mengendalikan kadar LDL.
Statin merupakan salah satu obat yang digunakan dalam penanganan kondisi tersebut. Selain itu, tersedia pula terapi yang lebih baru seperti penghambat PCSK9 yang dalam kondisi tertentu dapat menurunkan kadar LDL hingga 60 persen.
Risiko juga dapat lebih sulit dipetakan karena metode penghitungan kadar LDL tidak selalu memberikan gambaran yang sempurna. Penelitian Johns Hopkins Medicine menemukan bahwa dalam hampir seperempat kasus, metode estimasi LDL konvensional dapat memberikan hasil yang tidak akurat dalam menggambarkan tingkat risiko seseorang.
Dengan banyaknya informasi kesehatan yang beredar di internet, pemahaman mengenai kolesterol perlu dikembalikan pada bukti ilmiah. Pemeriksaan berkala dan konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah yang lebih tepat dibandingkan mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.





